Interaksi Dalam Organisasi Dengan Gaya Komunikasi Asertif

Diposting tanggal: 20-04-2018


Pernahkah Anda merasa suit untuk mengkomunikasikan pemikiran Anda dengan orang lain? Atau Anda merasa seringkali salah dimengerti oleh lawan bicara Anda. Komunikasi merupakan dasar dari interaksi manusia. Sebagai makhluk sosial yang tergantung satu sama lain, komunikasi adalah satu-satunya cara agar manusia dapat saling berhubungan satu sama lain. Komunikasi membantu manusia untuk memahami satu sama lain dan mencapai kesamaan makna.

Dalam komunikasi masing-masing individu memiliki gayanya sendiri-sendiri. Gaya berkomunikasi ini berkaitan erat dengan karakter dan kepribadian seseorang. Ketika seseorang memiliki kepribadian yang menarik, maka orang lain merasa tidak segan untuk mendengarkan pesan yang dibawanya. Namun, ketika seseorang memiliki kepribadian yang tidak menarik, maka pesan yang disampaikannya tidak akan didengarkan orang lain. Bila demikian, maka gagal orang tersebut melakukan sebuah komunikasi yang efektif.

Tanpa kita sadari gaya komunikasi yang kita lakukan sebenarnya merupakan bagian dari berita yang kita komunikasikan. Gaya berkomunikasi yang luwes dan menyenangkan akan menambah kekuatan pesan yang disampaikan.

Secara sederhana, gaya berkomunikasi bisa dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu :

1. Gaya komunikasi pasif.

Orang yang menggunakan gaya komunikasi pasif cenderung menghindari segala macam konflik. Gaya komunikasi ini cenderung menempatkan diri sendiri dalam situasi kalah menang, dan menghasi-lkan perasaan tertindas, marah, dan kehilangan kontrol.

Orang yang sering menggunakan gaya berkomunikasi ini memiliki kepercayaan yang lebih tinggi kepada orang lain daripada dirinya sendiri. Ketika dia berbicara, lingkungan sekitarnya akan mengacuhkannya atau bahkan dapat menolaknya. Seseorang dengan gaya komunikasi seperti ini akan memiliki kepercayaan diri yang rendah, dan kesulitan untuk mengenali kebutuhan sendiri.

Ciri-ciri komunikasi pasif adalah orang yang jarang mengungkapkan keinginan dan kebutuhan atau perasaan, mengikuti tuntutan dan kemauan orang lain, ingin menghindari konflik, tidak mampu mempertahankan hak dan pribadinya, selalu mengedepankan orang lain, minta maag berlebihan, marah dan kecewa yang dipendam, tidak tahu apa yang diinginkan, tidak bisa ambil keputusan, serta selalu mencari-cari alasan atas tindakan.

2. Gaya komunikasi agresif.

Orang yang menggunakan tipe komunikasi ini akan menciptakan situasi menang-kalah. Individu ini akan menggunakan intimidasi dan kontrol terhadap orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Orang dengan tipe ini kurang dihormati dan cenderung menyakiti orang lain. Orang dengan gaya komunikasi ini tidak menggunakan perasaannya dan kurang berempati terhadap orang lain.

Ciri-ciri komunikasi agresif adalah ingin kemauan dan pendapatnya diikuti, memaksa orang untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin dilakukan, keras dan bermusuhan, menyerang secara fisik atau verbal, interuptif, intimidatif, dan ingin menang dengan segala cara, suka memakai kambing hitam, dan suka memakai figure “Big Boss”.

3. Gaya komunikasi asertif.

Orang yang menggunakan tipe komunikasi yang asertif akan langsung mengarah pada situasi menang-menang. Gaya ini menghormati keinginan dan pendapat pribadi, juga keinginan dan pendapat orang lain. Individu yang asertif menggunakan kepercayaan bahwa kita semua memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah diri sendiri, dan orang lain hanya membantu saja. Orang seperti ini akan bertanggungjawab terhadap keputusan dan perbuatannya sendiri.

Ciri-ciri komunikasi asertif adalah terbuka dan jujur terhadap pendapat diri dan orang lain, mendengarkan pendapat orang lain dan dapat memahami, menyatakan pendapat pribadi tanpa mengorbankan perasaan orang lain, mencari solusi bersama dan keputusan, menghargai diri sendiri dan orang lain, mengatasi konflik, menyatakan perasaan pribadi, jujur tapi hati-hati serta mempertahankan hak diri.

Jelas terlihat bahwa gaya bicara asertif inilah yang seharusnya dimiliki setiap orang. Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain.

Lalu bagaimana contoh komunikasi yang dilakukan dengan gaya asertif? Contohnya mudah, misalkan Anda disodori kopi oleh seseorang yang ternyata tidak sesuai dengan selera Anda. Katakan saja terlalu manis. Jika Anda diam saja dan pura-pura tidak ada apa-apa, maka berarti Anda memilih berkomunikasi secara pasif. Selanjutnya Anda kapok meminum kopi buatan orang tadi.

Atau Anda berkata, “Ah, kopi yang kamu buat terlalu manis. Saya tidak suka!”. Kalimat ini Nampak netral, tapi sebenarnya kalimat ini termasuk kategori agresif. Orang yang membuatkan kopi mungkin akan tersinggung dan tidak mau lagi membuat kopi untuk Anda, atau tetap membuatkan kopi dengan hati yang dongkol.

Kalimat yang paling mendekati asertif adalah, “Saya sebenarnya lebih suka kopi yang tidak terlalu manis.” Kalimat ini akan menimbulkan kesan bagi orang yang membuat kopi bahwa dia tidak salah, hanya saja lidah kita yang kurang pas.

Berkomunikasi asertif akan membuat hubungan lebih baik karena kita dapat berkomunikasi tanpa menyinggung orang lain. Komunikasi asertif mengedepankan cara pandang untuk mengemukakan pendapat dan perasaan tanpa memaksakan kehendak serta tidak melanggar hak-hak.

Ada beberapa teknik komunikasi yang bisa meningkatkan keasertifan kita dalam berkomunikasi, antara lain: (1) Menggunakan ekspresi yang nyaman untuk dipandang dan selalu menjaga pandangan mata secara baik; (2) Menjaga intonasi dalam memberikan ketegasan tapi dapat menyenangkan orang lain; (3) Mendengarkan secara baik lawan bicara yang sedang mengatakan sesuatu; (4) Menanyakan pertanyaan apabila membutuhkan penjelasan; (5) Menyatakan apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan jangan terlalu memaksa ataupun terlalu meminta maaf; dan (6) Selalu berpandang untuk menemukan solusi terbaik dalam menyelesaikan suatu masalah.

Komunikasi asertif merupakan cara agar kita bisa memiliki hubungan yang baik dengan banyak orang. Penggunaan gaya komunikasi asertif ini dalam berorganisasi akan membantu kita untuk menciptakan suasana kerja yang menyenangkan. Kita yakini bahwa tiap individu mempunyai watak dan kepribadian yang tak sama dengan orang lain, karena ini merupakan hasil tempaan dan terbentuk berdasarkan pengalaman dimasa lalu. Jadi dengan gaya komunikasi asertif akan memudahkan kita untuk melakukan komunikasi dengan orang lain karena kita akan memiliki pembelajaran-pembelajaran yang terkandung dari situasi yang dihadapi serta belajar menghargai sudut pandang berbeda dengan melihat perbedaan dari sudut pandang positif.

Nah, Gaya komunikasi Anda termasuk pada gaya komunikasi yang mana?




Nunung Indrawaty Paudi, SH


Kasubid Pembinaan dan Pengawasan Aparatur pada Bidang Kajian Pengembangan Aparatur dan Diklat
Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Pohuwato

Artikel ini dimuat pada Buletin Kepegawaian Edisi IV, Terbit bulan Mei 2018

ARTIKEL LAINNYA


Pentingnya Membangun Semangat Kerja Dala...

Tugas utama pemerintahan terhadap rakyatnya adalah memberikan pelayanan dalam rangka memenuhi kebutuha

Membentuk The Right Man In The Right Pla...

Manajemen sangatlah penting sekali dalam bidang apapun, dalam organisasi apapun, instansi apapun, tanp

Interaksi Dalam Organisasi Dengan Gaya K...

Pernahkah Anda merasa suit untuk mengkomunikasikan pemikiran Anda dengan orang lain? Atau Anda merasa

Tim redaksi menerima tulisan berupa artikel/opini seputar Manajemen Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia Aparatur. Silakan kirimkan tulisan Anda, dengan cara klik tombol dibawah

Hak cipta © BKPPD Kabupaten Pohuwato.
Semua Hak Dilindungi.
Dikelola oleh Bidang Sistem Informasi Kepegawaian